Jangan Malu Priksakan Sperma

Apabila setelah sekian tahun sebuah pasangan tidak juga punya anak, vonis pertama pasti dijatuhkan pada kaum wanita sebagai biangnya. Memang, menurut statistik penyebab infertilitas pada pria lebih kecil dibanding perempuan, namun hal ini merupakan anggapan keliru. Keduanya sama-sama berpeluang menyebabkan infertilitas. Data menunjukkan 40-50 persen pasutri yang sulit mendapatkan keturunan adalah akibat reproduksi suami terganggu.

Anggapan itu menyebabkan pemeriksaan kesehatan reproduksi lebih banyak dilakukan pada perempuan. Sedang pria yang melakukan pemeriksaan masih sangat sedikit. Pemeriksaan penting yang harus dilakukan pada pria adalah menyangkut kualitas sperma.

Menurut androlog dr. Tri Bowo Hasmoro, secara garis besar, kesuburan seorang pria dinilai dari kecukupan jumlah dan kualitas sperma. Yaitu dengan melalui pemeriksaan cairan ejakulat (mani ). Namun kesuburan juga dipengaruhi oleh faktor genetik dan lingkungan.
Tetapi kadang juga harus diperiksakan bentuk maupun ukuran penis dan skortum. Sebab pada kenyataannya banyak pria berpenampilan fisik normal, namun organ reproduksinya mangalami gangguan, sehingga perlu dilakukan pemeriksaan sperma menyeluruh. Namun sayang hanya sedikit yang memeriksakan spermanya atas kesadaran sendiri. Malu kali yahhhhh!!!