Istri Bukan Objek Seksual

“Saya seorang istri 40 tahun, suami 51 tahun. Saya punya masalah dalam hubungan intim dengan suami. Boleh dikatakan hubungan intim kami tidak harmonis. Suami sering tidak memenuhi keinginan saya untuk berhubungan intim. Alasannya capek dan macam-macam.Suatu hari saya pernah marah besar karena ingin berhubungan tetapi suami menolak. Saya marah karena memang sangat ingin. Sudah sebulan kami tidak melakukan karena suami menolak terus.Waktu itu suami balik marah dan mengatakan saya tidak tahu diri sebagai wanita. Menurut suami, wanita tidak boleh menuntut soal seks dan hanya melayani permintaan suami. Suami juga mengatakan telah memenuhi kewajibannya memberi saya dua anak.Terus terang, saya terkejut mendengar kata-katanya. Saya menganggap suami saya sangat picik, tetapi saya tidak katakan itu.

Pertanyaan saya, apa benar saya tidak tahu diri karena menuntut hubungan intim?Apa benar wanita hanya bertugas melayani suami dan suami hanya bertugas memberi keturunan? Mudah-mudahan dengan informasi yang benar saya bisa menjelaskan kepada suami.”

(L.S., Jakarta)Jawab:

Istri Berhak Menuntut

Setelah membaca surat Anda, ada tiga kemungkinan yang dapat saya sampaikan. Pertama, mungkin suami Anda tidak mengerti tentang seksualitas manusia, khususnya wanita. Dia tidak mengerti bahwa wanita sama dengan pria sebagai makhluk seksual.Kedua, mungkin dia menganggap istri hanya sebagai pembantu suami, bukan setara. Ketiga, mungkin dia mengalami suatu gangguan fungsi seksual.Ketidakmengertian tentang seksualitas wanita menyebabkan suami Anda menganggap Anda tidak tahu diri karena menuntut hubungan seksual. Padahal, boleh saja wanita menuntut hubungan seksual kepada suaminya, sama seperti suami boleh menuntut kepada istrinya untuk melakukan hubungan seksual.Ketidakmengertian itu juga menyebabkan dia beranggapan kalau wanita sudah mampu hamil dan melahirkan, berarti juga sudah puas. Padahal, kepuasan seksual tidak sama dengan kemampuan hamil dan melahirkan.Karena kemungkinan menganggap istri tidak setara dengan suami atau hanya dianggap sebagai pembantu suami, membuat suami beranggapan bahwa Anda hanya sebagai objek pemuas seksual suami, tidak boleh menuntut. Anggapan seperti ini erat kaitannya dengan faktor budaya yang bias gender, yang umum terjadi di masyarakat atau bangsa yang belum maju.

Kemungkinan suami mengalami gangguan fungsi seksual, seperti hambatan dorongan seksual dan disfungsi ereksi, tidak dapat dihindarkan. Banyak pria yang mengalami disfungsi ereksi, kemudian mencari alasan untuk menolak hubungan seksual karena takut gagal dan tidak dapat memuaskan istrinya.Padahal, reaksi seperti ini sungguh tidak benar dan merugikan bagi kehidupan seksual suami istri. Seharusnya setiap gangguan fungsi seksual tidak dibiarkan, apalagi hanya dikompensasi dengan reaksi yang tidak benar seperti itu.

Perlu Penyadaran

Anggapan Anda bahwa suami berpandangan picik, memang tidak berlebihan. Meski begitu, Anda harus coba mengerti mengapa pandangannya seperti itu. Boleh jadi tidak terlepas dari ketiga kemungkinan di atas.Saya sarankan Anda mencoba berkomunikasi dengan suami, sambil memberikan pengertian mengenai masalah yang Anda alami. Saya tahu tidak selalu mudah bagi Anda untuk berkomunikasi, apalagi kalau suami sudah menunjukkan sikap yang menganggap Anda tidak setara dengan dia.Pada akhirnya memang Anda harus mengetahui di antara ketiga kemungkinan di atas, mana yang sebenarnya menjadi penyebab bagi suami.Kalau kemungkinan pertama dan kedua yang dialami, tentu diperlukan semacam pendidikan untuk menyadarkan suami bahwa wanita adalah makhluk seksual, sama seperti pria. Suami juga harus disadarkan bahwa hubungan sosial suami dan istri adalah hubungan yang setara, bukan seperti antara bos dan anak buah.

Semoga Anda berhasil melewati masa yang sulit ini.