Atasi Andropause Anda!

PENUAAN pada kaum pria yang ditandai dengan menurunnya kadar hormon testoteron, kemampuan seksual, dan kemampuan fisik lainnya dapat diatasi dengan mengubah pola hidup lebih sehat dan pemberian obat untuk peremajaan, termasuk kemampuan seksualnya. Demikian disampaikan androlog, Prof Dr dr Susilo Wibowo M.Ed, Sp. And, menjelang pngukuhan dirinya sebagai guru besar biologi kedokteran Universitas Diponegoro (Undip) Semarang, Kamis (4/7). Ia mengatakan, berdasarkan penelitian terhadap 290 pasien dengan sindrome PADAM (partial androgen deficiency in aging male) atau andropause (untuk wanita disebut menopause – red) menunjukkan hasil cukup memuaskan. Penelitian ini dilakukan di Semarang pada 1999 hingga Maret 2001. Temuannya itu sudah mendapat pangakuan androlog dari luar negeri. “Bahkan paman saya yang sebelumnya pakai tongkat ketika berjalan dan sering mengeluh sakit, setelah menjalani terapi dan metode baru pengobatan kini sudah bisa berjalan normal, bahkan bisa menyetir mobil sendiri dalam perjalanan jauh. Kemampuan seksualnya juga membaik,” katanya. Guna memperlambat penuaan dan mencegah PADAM, langkah yang ditempuh adalah dengan mengutamakan keselamatan kerja, cegah kontak langsung dengan bahan kimia agar tidak terjadi umpan balik negatif dalam produksi hormon testoteron. Polusi udara, air dan suara harus dikurangi serta memperbaiki mutu lingkungan di perumahan. Ia juga menyarankan mengurangi kontak langsung dengan sinar matahari, mengurangi stres. Ia mengingatkan, pria agar tetap lebih awet muda supaya menjaga kebugaran tubuh dengan olah raga, menghindari makanan dengan bahan pengawet, makan dalam jumlah cukup. Sikap ini bisa meningkatkan hormon GH dan IGF-1. “Batasi kalori makanan 30-50% dari keinginan normal untuk mengurangi radikal bebas yang bersifat merusak,” katanya. Pencegahan PADAM dan memperlambat penuaan dari dokter bisa dilakukan dengan memberikan obat untuk menekan kadar prolaktin yang meningkat dan menghambat progresivitas varikokel serta pengobatan prostatitis. Untuk hormon yang tidak dapat distimulasi, katanya, dalat dilakukan dengan cara substitusi hormon, seperti hormon DHEA, melatonin, GH dan IGF-1 dan substitusi hormon testoteron. Peremajaan bisa dilakukan dengan stimulasi hormon endogen, meskipun obat ini sudah dijual bebas tetapi perkembangannya masih menunggu perkembangan selanjutnya karena hasilnya masih meragukan. “Stimulasi produksi testoteron dengan hCG terhadap 290 pasien di Semarang menunjukkan hasil sangat bagus, dari delapan injeksi selama satu bulan, menghasilkan peningkatan libido, kemampuan bekerja, semangat hidup dan mengurangi kecemasan serta keluhan lainnya,” katanya. Ketika ditanyakan berapa dana yang dibutuhkan pasien yang ingin mengembalikan vitalitas hidupnya seperti di masa usia produktif, Susiso Wibowo secara terbuka menyebutkan Rp1,8 hingga Rp2 juta per bulan. “Namun biasanya setelah ditangani satu bulan hasilnya sudah kelihatan dan lebih sempurna lagi bila menjalani perawatan selama tiga bulan,” katanya Perubahan mental dan fisik pria yang menuju penuaan, katanya, antara lain ditandai dengan gejala muda lupa, berkurangnya reflek, kehilangan gairah hidup, sering mengantuk tapi sulit tidur, kadang otoriter bahkan bertindak aneh dan lainnya. Perubahan fisik ditandai dengan berkurangnya kelenjar ludah, sering kesulitan menelan makanan, perubahan pada mata, telinga, dan hidung dan tentu saja mulai tampak keriput. Penuaan pria juga ditandai dengan keluhan di bidang seksual seperti penurunan libido, ereksi kurang keras, penis mengecil, pancaran ejakulasi lemah, frekuensi hubungan seksual menurun dan kurang responsif terhadap percakapan, rangsang dan stimulus seksual. Keluhan lain yang bersifat lebih umum juga melanda pria tua, seperti gelisah, sulit tidur, cemas, nyeri kepala, sering kencing, takut, perasaan tidak mampu. Susilo menyebutkan, penyebab penuaan itu adalah faktor lingkungan dan psikis seperti pencemaran lingkungan, pemakaian obat dan jamu yang tidak terkontrol sehingga menyebabkan penurunan hormon tubuh, stress dan sinar matahari langsung yang menyebabkan hilangnya elastisitas dan rusaknya kolagen kulit. (sm)