Suplemen Peningkat Libido

Viagra, PIL ANTI IMPOTENSI Bagi Pria

Impotensi atau lemah syahwat tidak lagi menjadi momok yang menakutkan bagi pria. Kemajuan teknologi medis dan farmasi menyodorkan banyak cara untuk kembali perkasa. Mulai dari yang rumit macam implantasi protesa, injeksi, sampai pil praktis yang kini sedang digandrungi, Viagra dan Vasomax. Tapi patuhi petunjuk dokter Anda, kalau tak mau celaka.

Hanya karena sebutir pil, pasangan yang semula harmonis menjadi berantakan sampai harus berperkara di pengadilan. Tengoklah kisah jutawan New York, Frank Bernardo (70) dan teman hidupnya, Roberta Burke (63). Menurut penuturan Burke, sejak 1994 suaminya menderita impotensi.

Namun lantaran sudah sama-sama tua, loyonya kelelakian Bernardo tidak menjadi gangguan atas keharmonisan hidup pasangan ini. Sampai kemudian Bernardo berkenalan dengan si mungil Viagra, pil temuan baru yang berkhasiat memulihkan keperkasaan lelaki. Benarlah, ternyata setelah minum Viagra kegiatan pak tua ini di tempat tidur bak perjaka lagi.

Dasar tua-tua keladi, setelah mendapatkan keperkasaan yang selama ini padam, sejak Mei 1998 tanpa ewuh-pakewuh Bernardo meninggalkan sang istri.

Terang saja Burke uring-uringan. Dirinya merasa terhina. Betapa tidak? Ketika loyo, Bernardo gencar merayunya. Pria gaek beruban rata yang selalu memakai alat bantu dengar pada kedua telinganya itu mengaku cinta setengah mati kepada Burke.

Tetapi ketika menemukan keperkasaannya lagi lantas ngacir, "Emangnya saya sepatu yang sudah butut, lantas dibuang begitu saja? Ini semua gara-gara Viagra. Buktinya, sebelum ia kenal pil biru itu segalanya berjalan baik-baik saja." Akhirnya, Selasa 16 Juni 1998, Burke menyeret suaminya ke pengadilan Mineola, New York. Ia menuntut ganti rugi sebesar 2 juta dollar.

Itulah salah satu dari sekian dampak yang diakibatkan oleh kemunculan pil baru warna biru bernama Viagra. Apakah kehebatan pil ini? Ia memang obat impotensi (lemah syahwat) pertama yang berwujud pil, mengingat sebelumnya beberapa terapi impotensi dikenal rumit, menyakitkan, dan menuntut pemakainya sabar dan agak "menderita".

Nah, begitu muncul Viagra, jutaan orang di seluruh dunia yang mendambakan kembali keperkasaanya lantas merasa mendapat penyelamat baru. Tak pelak, pil produksi raksasa farmasi New York, Pfizer Pharmaceuticals, ini laris manis terjual ke seluruh dunia. Setelah mengantungi izin dari Lembaga Pengawasan Obat dan Makanan (FDA) AS pada tanggal 27 Maret 1998, pil ini segera diburu orang.

Diperkirakan di bumi ini terdapat sekitar 140 juta pria penderita gangguan ereksi jangka panjang. Obat ini cocok untuk kasus impotensi dan lemah syahwat lantaran diabetes, gangguan syaraf tulang belakang, dan prostatectomy. Juga cocok bagi penderita ejakulasi prematur.

Sejak dilempar ke pasar, dalam waktu 6 minggu tak kurang dari 1,5 juta resep ditulis para dokter setiap hari bagi para pemburu Viagra. Belum termasuk mereka yang memburunya secara ilegal di pasar gelap tanpa resep dokter. Bahkan seorang urolog dari Washington, John Stripling, mengganti tulisan tangan resep Viagra dengan stempel karet.