Seksualitas Pada Anak-anak

Anak-anak telah mampu merasakan erotisme ketika bagian tubuh tertentu disentuh. Tidak jarang mereka sengaja memainkan bagian-bagian tubuh itu karena memang menimbulkan perasaan menyenangkan baginya. Mungkin Anda pernah melihat anak laki-laki yang suka memain-mainkan penisnya. Hal tersebut dilakukan sang anak karena adanya sensasi erotik yang dirasakan.

Bagaimana seorang anak mengidentifikasi diri sebagai laki-laki atau sebagai perempuan? Proses pembelajaran diketahui sangat berperan. Biasanya seorang anak yang berkelamin laki-laki akan diperlakukan berbeda dengan yang berkelamin perempuan. Anak laki-laki diberi mainan laki-laki, diberi pakaian laki-laki, diajari berpikir dan bertindak seperti halnya laki-laki. Begitupun perempuan di beri mainan yang identik dengan perempuan, diberi pakaian perempuan, dan diajari berpikir dan bertindak layaknya perempuan. Dengan kata lain mereka belajar menjadi laki-laki dan belajar menjadi perempuan.

Teori terbaru dan paling mutakhir mengenai perkembangan seksualitas atau orientasi seksual adalah teori yang dikemukakan oleh Daryl J. Bem, dari Universitas Cornell, Amerika Serikat, yang disebut teori EBE (Exotic Become Erotic). Menurut teori EBE, individu menjadi tertarik secara erotik pada seseorang yang berasal dari kelompok yang mereka rasa berbeda (oleh karena itu eksotik) pada saat anak-anak.

Berikut adalah ringkasan teori EBE yang diringkas dari tulisan Daryl J Bem dalam jurnal Archives of Sexual Behavior, Volume 29, Nomor 6, tahun 2000, yang berjudul ‘Exotic becomes erotic: interpreting the biological correlates of sexual orientation’ Kerangka berpikirnya disajikan secara urut.

Pertama. Faktor genetik atau biologis memberikan kapasitas seseorang memiliki orientasi seksual tertentu, namun tidak mutlak. Temperamen (watak dasar) pada saat anak-anak ikut menentukan orientasi seksual.

Kedua. Temperamen pada saat anak-anak menentukan tingkat kesenangannya dalam menikmati aktivitas tertentu. Ada aktivitas yang lebih disukai ketimbang yang lain. Seorang anak mungkin lebih tertarik dengan permainan kasar dan olahraga (sifat tipikal laki-laki). Sebagian yang lain lebih suka bersosialisasi (sifat tipikal perempuan). Mereka akan lebih suka bergabung dengan anak lain yang menyukai aktivitas yang sama. Anak-anak yang lebih menyukai aktivitas yang sesuai sifat tipikal jenis kelaminnya dan bermain bersama dengan anak yang sama jenis kelaminnya menunjukkan konformitas dengan gendernya. Sebaliknya anak-anak yang lebih menyukai aktivitas yang berbeda dengan sifat tipikal jenis kelaminnya serta bermain dengan lawan jenis menunjukkan tidak adanya konformitas dengan gendernya (non-konformis).

Ketiga. Anak-anak yang menunjukkan konformitas dengan gendernya akan merasa berbeda dengan lawan jenisnya (dengan yang berkelamin beda). Sedangkan anak-anak yang menunjukkan tidak adanya konformitas gender akan merasa berbeda dengan sesama jenisnya (dengan yang berkelamin sama). Mereka melihat yang berbeda dengan dirinya sebagai eksotik.

Keempat. Baik anak-anak yang konformis atau non-konformis dengan gendernya, akan mengalami keterbangkitan fisiologis tertentu pada saat kehadiran anak-anak lain yang mereka rasakan berbeda. Anak laki-laki yang konformis dengan gendernya akan merasa antipati atau tidak senang dengan kehadiran anak perempuan. Sebaliknya, anak perempuan yang konformis dengan gendernya akan merasakan was-was dengan kehadiran anak laki-laki. Anak laki-laki yang non-konformis dengan gendernya juga akan merasakan was-was saat kehadiran anak-anak laki-laki lainnya. Bahkan sang anak non-konformis bisa mengalami ejekan dari anak laki-laki lain sehingga merasa takut dan marah pada kehadiran anak laki-laki, meskipun ia sendiri laki-laki.

Kelima. Keterbangkitan fisiologis yang muncul seiring kehadiran anak lain yang berbeda dengan dirinya akan membentuk atau bertransformasi menjadi ketertarikan erotik. Gampangnya, teori EBE bisa disimpulkan sebagai berikut :

1. Anak laki-laki yang konformis dengan gendernya merasa berbeda dengan anak perempuan, lalu memiliki perasaan tidak senang dengan kehadiran anak perempuan, maka akhirnya akan tertarik secara erotik pada perempuan. Selanjutnya anak laki-laki tadi akan menjadi heteroseksual.
2. Anak perempuan yang konformis dengan gendernya merasa berbeda dengan anak laki-laki, lalu memiliki perasaan was-was dengan kehadiran anak laki-laki, maka akhirnya akan tertarik secara erotik pada laki-laki. Selanjutnya anak laki-laki tadi akan menjadi heteroseksual.
3. Anak laki-laki yang non-konformis dengan gendernya merasa berbeda dengan anak laki-laki lainnya, lalu memiliki perasaan tidak senang dengan kehadiran sesama anak laki-laki, maka akhirnya akan tertarik secara erotik pada sesama laki-laki. Selanjutnya anak laki-laki tadi akan menjadi homoseksual.
4. Anak perempuan yang non-konformis dengan gendernya merasa berbeda dengan anak perempuan, lalu memiliki perasaan tidak senang dengan kehadiran anak perempuan, maka akhirnya akan tertarik secara erotik pada perempuan. Selanjutnya anak perempuan tadi akan menjadi homoseksual.