Suplemen Peningkat Libido

Bersiap Menghadapi Masa Menopouse

Sebagian orang menganggap datangnya menopause sebagai berakhirnya masa menyenangkan dalam hidup. Proses alami yang dilalui setiap perempuan itu dipandang sebagai pertanda menjadi tua dan memudarnya kecantikan seseorang. Apalagi datangnya menopause ini diiringi sejumlah gejala yang mengganggu.

Kecemasan akan tibanya masa menopause ini juga dirasakan Ny Euis (50), warga Bekasi. Rasa takut menyergap, termasuk khawatir akan kehilangan suami lantaran gairah seksual menurun dan kecantikan memudar. “Tiap kali suami bilang kalau saya mengalami gejala menopause, saya rasanya mau menangis,” tuturnya. Melewati usia 45 tahun, sebagian perempuan memang telah mengalami gejala pra-menopause.

Ny Endang (49), misalnya, mengaku masih mendapat haid, tetapi datangnya tidak lagi teratur. Hal ini menimbulkan kekhawatiran terjadinya berbagai penyakit yang banyak menyerang perempuan menopause, seperti keropos tulang, kanker usus besar, dan penyakit lain. Berbagai gejala yang menyertai datangnya menopause memang cukup mengganggu, sebagaimana dialami Ny Suci Rohayati (55), warga Depok. Di usia 50 tahun, ia mulai mengalami sejumlah gejala pra-menopause. Hal ini ditandai dengan haid yang datang tidak teratur. Dalam satu bulan, ia kadang mendapat menstruasi hingga dua kali. “Saya jadi sering merasa panas, kalau pulang kantor banyak berkeringat dan cepat emosi,” ujarnya. Meski mengganggu, bagi ibu dari tiga anak ini, menopause merupakan hal biasa dan tak perlu dicemaskan. Karena itu, kendati telah memasuki masa menopause, ia tidak mengurangi aktivitas sehari-hari. Selain bekerja di sebuah departemen pemerintah, ia rajin berolahraga secara teratur untuk menjaga kebugaran. Namun, belakangan ia mulai menderita nyeri pada persendian, telapak kaki sakit, dan susah tidur. “Setelah berkonsultasi dengan dokter, saya disarankan agar tidak lagi senam aerobik karena bisa mendorong terjadinya nyeri persendian dan berisiko terjadi patah tulang. Oleh karena itu, saya menggantinya dengan berlatih senam menopause secara rutin,” kata Ny Suci. Ia pun secara berkala memeriksakan kesehatannya, termasuk mammografi, untuk menghindari berbagai penyakit degeneratif. Berhentinya menstruasi ini juga mengurangi gairah seksualnya. Beruntung hal ini tidak sampai mengganggu keharmonisan rumah tangganya. “Saya dan suami telah menikah selama puluhan tahun dan sudah mengalami puncak aktivitas seksual. Sekarang kami telah sama-sama tua, dan menjadikan pasangan sebagai kawan bicara,” tuturnya.

Mengganggu

Menopause kini jadi perhatian. Padahal, semula isu tentang menopause kurang mendapat perhatian dari semua pihak, termasuk kaum hawa. Hal ini disebabkan umur harapan hidup perempuan di dunia makin panjang. Pada tahun 2030, jumlah perempuan di dunia yang memasuki masa menopause diperkirakan mencapai 1,2 miliar orang.

Saat ini Indonesia baru mempunyai 14 juta perempuan menopause. Namun, menurut proyeksi penduduk Indonesia tahun 1995-2005 oleh Badan Pusat Statistik, jumlah penduduk perempuan berusia di atas 50 tahun adalah 15,9 juta orang. Bahkan, pada tahun 2025 diperkirakan akan ada 60 juta perempuan menopause. Menopause sesungguhnya merupakan hal yang secara alamiah akan dialami tiap perempuan. Menurut National Institutes of Health, Amerika Serikat, menopause merupakan tahap akhir proses biologi yang dialami wanita berupa penurunan produksi hormon seks perempuan, yakni estrogen dan progesteron dari indung telur. Seseorang disebut menopause jika tidak lagi menstruasi selama 12 bulan atau setahun. Hal ini umumnya terjadi ketika perempuan memasuki usia 48 hingga 52 tahun. Sebagaimana permulaan haid, akhir menstruasi juga bervariasi antara perempuan yang satu dan lainnya.

Perokok cenderung mencapai menopause lebih cepat daripada perempuan bukan perokok. Menstruasi akan terhenti lantaran fungsi indung telur mulai menurun. Setelah menopause, indung telur tetap memproduksi estrogen, tetapi dalam jumlah sangat kecil. Karena indung telur merupakan pabrik penghasil sel telur, penurunan fungsinya diikuti berakhirnya pelepasan sel telur yang terjadi tiap bulan pada wanita usia subur. Seiring berkurangnya estrogen dan progesteron, terjadi berbagai perubahan secara fisik maupun psikis. Kulit mulai mengering, elastisitas otot berkurang, termasuk dinding vagina mulai menipis dan mengering, sehingga rentan terkena infeksi. Kekurangan estrogen juga menyebabkan tulang jadi tipis dan mudah patah (osteoporosis). Penurunan estrogen menurunkan pula kadar lemak densitas tinggi, yaitu kolesterol baik, yang berfungsi membersihkan pembuluh darah dari timbunan kolesterol buruk. Sebaliknya, kadar kolesterol buruk dan total kolesterol meningkat sehingga mempertinggi risiko stroke dan serangan jantung.

“Perempuan menopause terancam osteoporosis, jantung koroner, kanker usus besar,” kata Frizar Irmansyah, dokter spesialis kandungan. Perubahan fisik yang terasa dan menimbulkan rasa tidak nyaman adalah semburan panas dari dada ke atas diikuti banyak berkeringat. Keluhan lain yang terasa adalah nyeri saat berhubungan intim, jantung berdebar-debar, susah tidur, sulit menahan kencing, dan sakit kepala. Juga pegal-pegal, merasa tertekan, lelah psikis, lelah somatik, susah tidur, merasa takut, pelupa, merasa tidak dicintai, dan depresi. Tidak semua perempuan mengalami gejala menopause yang sama. Menurut Ichramsjah, guru besar pada Bagian Obstetri dan Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia/Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta, gejala yang dialami hampir setiap perempuan adalah gelisah, takut, pelupa, pemarah, nyeri tulang belakang, dan libido menurun. Adapun gejala yang tidak selalu dialami perempuan adalah semburan panas.

Terapi menopause

Untuk menghindari terjadi komplikasi penyakit, hal ini perlu diantisipasi sejak perempuan berusia 45 tahun. Sayangnya, banyak perempuan tidak menyadari dirinya menopause lantaran tidak memiliki cukup informasi. Akhirnya mereka mengobatinya secara simtomatis untuk menghilangkan gangguan yang dirasakan. Mereka kemudian minum obat sakit kepala karena merasa pusing. Padahal, meminum berbagai obat simtomatis memiliki efek samping ke ginjal. Karena penyebab utamanya adalah kekurangan estrogen, penyembuhan paling tepat adalah menambahkan hormon estrogen dari luar ke dalam tubuh.

Ada dua jenis estrogen dari luar tubuh yang bisa dipakai, yakni hormon estrogen yang berasal dari tumbuhan (fitoestrogen) dan hormon yang dibuat pabrik. Salah satu cara yang ditawarkan dunia kedokteran adalah terapi sulih hormon (TSH). Terapi ini mempunyai efek signifikan terhadap perempuan menopause. Setelah minum hormon, pasien akan merasa sehat dan nyaman, berbagai keluhan hilang, perempuan juga bisa kembali mendapatkan menstruasi, tidak lagi merasakan jantung berdebar-debar, pusing, atau merasa pegal-pegal. Namun, dalam perkembangannya, ternyata TSH berisiko menimbulkan kanker payudara, terutama pada pasien yang memiliki sejarah kanker dalam keluarganya. Risiko ini tidak terjadi pada tiap orang. “Untuk itu, pemakaian terapi ini sebaiknya benar-benar di bawah pengawasan dokter dan tidak disarankan bagi pasien dengan sejarah kanker. Bagi pasien tanpa sejarah kanker, bisa melakukan uji laboratorium setiap tahun,” kata Frizar. Bagi pasien yang tidak ingin mengikuti TSH, Frizar menyarankan mengonsumsi fitoestrogen yang banyak terdapat pada makanan Indonesia. Sumber estrogen berasal dari tumbuhan seperti bengkuang, kacang kedelai, pepaya, lidah buaya, dan semanggi. “Walaupun kekuatannya lemah jika dibandingkan TSH, namun fitoestrogen bermanfaat untuk mengurangi keluhan menopause karena cukup aman dan mudah didapat,” tuturnya. 

Pengelolaan diri perempuan menopause juga sangat penting untuk memaksimalkan kerja obat-obatan yang dikonsumsi. Motivasi diri ini harus timbul dalam diri pasien dan dapat ditempuh dengan cara berdoa, meditasi kesehatan, yoga, dan memakai metode hipnosis atau hipnoterapi. “Perempuan menopause dapat menjalani hipno-menopause terapi,” kata Stephanus P Nurdin, dokter dari Rumah Sakit Ibu dan Anak Budhi Jaya. Metode hipnoterapi modern dengan orientasi kepada pasien ini bertujuan membuka kesadaran klien untuk mengetahui masalah utama sebagai dampak menopause dan membantu untuk menyembuhkan atau menyelesaikan masalahnya oleh dirinya sendiri. “Pasien jadi merasa lebih nyaman dan dapat menerima kondisinya, lebih percaya diri, sehingga tidak mengganggu aktivitas sehari-hari,” ujarnya. Dengan penerapan gaya hidup sehat dan terapi yang efektif, secara perlahan rasa kepercayaan yang hilang atau gejala lain yang dirasa mengganggu pun dapat diatasi. Akhirnya, kita pun bisa menjalani hidup menjelang maupun selama menopause.