Suplemen Peningkat Libido

Seksualitas dan Penyakit Menular Seksual

Ada dua jenis penyakit menular seksual yang paling umum yaitu Human Pappilomavirus (HPV) dan Chlamydia, keduanya menyebar tanpa menunjukkan adanya gejala tertentu.

Para penderita HPV pada umumnya tidak akan mengetahui terkena virus itu setelah tiga minggu. Mereka tidak akan merasa sakit dan merasa sehat saja. Padahal virus tersebut sangat berbahaya jika tidak segera diobati. Virus tersebut akan menyebabkan perubahan sel-sel pada leher rahim yang pada kasus tertentu akan mengakibatkan penyakit kanker.

Dalam kasus chlamydia, sebagian besar penderita juga tidak menunjukkan gejala tertentu. Jika positif terinfeksi chlamydia, sebaiknya Anda dan pasangan menjalani pengobatan antibiotik selama tujuh hari. Bila tidak segera diperiksakan, virus ini bisa menyebabkan penyakit radang rongga pinggul, yaitu infeksi pada saluran reproduksi bagian atas, serta bisa menyebabkan kemandulan.

Karena itu, setiap wanita di bawah 25 tahun yang telah melakukan hubungan seks secara aktif sebaiknya melakukan tes chlamydia, setidaknya setahun sekali.


Spermicide Bisa Bikin Alergi

Jika Anda rajin memakai zat pembunuh sperma yang disebut spermicide sebagai salah satu pendukung alat kontrasepsi, hati-hati, deh. Apalagi bila vagina Anda terasa gatal, pedih, serta dipenuhi dengan bintil-bintil kemerahan. Bisa jadi Anda alergi terhadap zat tersebut.

Jika Anda menggunakan jenis foam (busa) atau suppository (kapsul yang dimasukkan ke dalam vagina), cobalah menggantinya dengan jenis krim atau gel. Untuk mencegah alergi, pilihlah kondom yang tidak dilapisi spermicide atau konsultasikan pada dokter Anda mengenai metode kontrasepsi hormonal lainnya.

Satu lagi, sebenarnya spermicide tidak dapat mencegah penularan penyakit seksual seperti HIV, chlamydia dan gonorrhea. Untuk perlindungan maksimal, gunakan saja spermicide dan kondom.

Rajin Olahraga = Seks Bergairah

 

Ingin mencapai kehidupan seks yang bergairah dan penuh sensasi? Yang pasti jawabannya bukan melulu bentuk tubuh yang aduhai lagi menawan. Karena bentuk tubuh menawan bisa tidak berarti lantaran kurangnya kebugaran. Sebaliknya, tubuh yang kurang seksi sekalipun namun bugar, justru akan mendatangkan sensasi seksual yang luar biasa!

Belum percaya? Semua itu tentu ada alasannya. Menurut beberapa pakar seksologi, tidak bisa dipungkiri kalau yang namanya seks itu erat kaitannya dengan aktifitas fisik. Artinya, saat aktifitas seksual berlangsung dibutuhkan adanya kekuatan otot-otot, fleksibelitas serta daya tahan tubuh. Tidak heran jika lantas olahraga dijadikan salah satu penunjang terciptanya kehidupan seksual yang bergairah.

Yang menjadi pertanyaan, olahraga atau latihan-latihan macam apa yang ampuh memberi suntikan gairah bagi kehidupan seksual tersebut? Penasaran? Ikuti saja yang berikut ini:

Latihlah daerah bagian atas tubuh. Wilayah perut ke atas ini memegang peranan yang lumayan penting. Karena pada wilayah tersebutlah terdapat organ seksual seperti payudara. Tentunya Anda ingin payudara terlihat kencang bukan? Pun perlu diingat pentingnya melatih kekuatan otot-otot lengan Anda, entah itu dengan dumble ataupun dengan menggunakan buku-buku tebal seperti kamus atau ensiklopedi misalnya.

Pentingnya melatih PC alias pubococcyceal mucles. Otot-otot ini dikenal dengan otot cinta karena berada di seputar wilayah vagina. Dengan melatih PC ini, menurut para pakar, akan menguatkan dan mengencangkan struktur bagian dalam vagina.

Melatih bagian bokong. Bokong yang kencang bukan cuma membuat Anda lebih pe-de, pun tentunya akan semakin menarik perhatian dan gairah pasangan Anda, bukan?

Latihan lainnya, seperti lompat tali, jogging, dan bersepeda statis juga perlu dilakukan. Apa hubungannya latihan-latihan tersebut dengan kehidupan seksual? Banyak gerak seperti yang dilakukan dalam latihan-latihan tersebut sedikit banyak akan membakar kalori dan mengurangi lemak dalam tubuh kita. Akibat positifnya kemudia, tubuh kita menjadi lebih ringan dan bugar. Nah, kalau tubuh bugar dan sehat maka kehidupan seksual pun biasanya tak kalah menyenangkan.

Untuk latihan-latihan di atas, disarankan oleh para ahli agar Anda melakukan latihan-latihn tersebut dengan bantuan instruktur yang profesional. Dengan begitu tujuan Anda untuk mencapai kehidupan seksual yang menggairahkan sekaligus bugar itu pun bakal segera terkabul. Selamat berlatih !

Hormon dan Gairah Seks


Estrogen hanya sedikit - atau bahkan tidak - memiliki efek terhadap gairah seks. Walau penurunan produksi estrogen pada masa menopause membuat fisik wanita berubah sehingga mempengaruhi perilaku seksual, hasrat untuk berhubungan intim biasanya nggak lenyap 100 persen. Justru banyak wanita di usia matang lebih tertarik pada seks, dan merasa hubungan seks mereka lebih menyenangkan karena nggak perlu takut hamil lagi.

Sedangkan hormon testosteron sangat diperlukan agar fungsi seksual berjalan normal pada pria dan wanita. Meski testosteron merupakan hormon pria, hormon ini juga diproduksi ovarium wanita dalam jumlah lebih sedikit. Tanpa testosteron, hasrat seks tak akan pernah muncul.

Perilaku kita tidak semata-mata ditentukan hormon tetapi juga oleh faktor psikologis, sosial, budaya, ekonomi, dan norma-norma moral yang rumit. Sampai kini, belum bisa dibuktikan bahwa gairah seks wanita lebih kuat dari biasanya pada siklus usia pertengahan. Memang, sih, beberapa penelitian telah mendokumentasikan hasrat yang lebih besar pada saat dan tidak lama setelah proses ovulasi terjadi. Tapi itu, kan, nggak pasti juga….

Pada masa pra-ovulasi, gelora seksual tidak betul-betul padam karena sperma masih bisa bertahan hidup di dalam vagina selama 72 jam. Bukti lain menunjukkan, wanita yang teratur berhubungan intim memiliki siklus menstruasi lebih pendek ketimbang wanita yang tidak aktif secara seksual.

Wanita dengan tingkat testosteron tinggi memperlihatkan lebih banyak respons vaginal yang jelas terhadap rangsangan erotis. Tapi wanita yang sama bisa saja sama sekali tidak merasakan kepuasan seks dengan pasangannya. Tak ada yang tahu pasti kenapa hasilnya bisa begitu. Diduga, sih, masturbasi atau onani memang tergantung pada tingkat testosteron. Dengan membaca cerita bertema seks, dan cerita itu membuat hormon menjadi tinggi. Tapi tenang saja, hormon itu tidak punya efek apa pun terhadap aktivitas seks yang dilakukan bersama pasangan.