Remaja Ragukan Seks Oral Sebagai Aktivitas Seks

Kini, kelihatannya ada kecenderungan berubahnya persepsi tentang seks di kalangan anak muda. Tindakan yang sebenarnya tergolong dalam kegiatan seks bukan lagi dianggap sebagai kegiatan seks. Khususnya ini berlaku untuk seks oral. Mereka malah meragukan apakah seks oral dapat dianggap sebagai kegiatan seks.

Setidaknya, itulah yang diyakini sebagian remaja, bahkan orang-orang dewasa yang usianya masih muda. Buktinya, misalnya, terlihat di kalangan remaja Amerika Serikat. Menurut survei, sebanyak 60% penduduk yang usianya masih muda tidak menganggap seks oral sebagai kegiatan seks.

Ini tentu saja merupakan kesalahan persepsi. Namun, menurut pakar, ada sesuatu yang lebih berbahaya dari itu. Remaja mungkin beranggapan bahwa, dengan melakukan seks oral, mereka tidak akan tertular penyakit seksual.

Bisa saja mereka sudah tahu bahwa PMS (penyakit menular seksual) dapat diperoleh melalui senggama. Namun, mereka tidak sadar penyakit yang sama juga dapat ditularkan melalui seks oral. Menurut Bruce Ambuel, nyatanya seks oral bisa menjadi cara HIV pindah ke pasangan seseorang. Bukan hanya itu, herpes, gonorea, sifilis pun dapat ditularkan lewat tindakan ini.

Dosen Medical College of Wisconsin dari Milwaukee, Amerika Serikat, ini mengatakan bahwa statistik tentang seks oral di antara remaja memang jarang. Tetapi, dapat dipastikan bahwa telah banyak siswa sekolah menengah aktif melakukan seks. Artinya, mereka telah melakukan hubungan senggama.

Menurut survei nasional Lembaga Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC ? Centers for Disease Control and Prevention), sekitar 33% anak perempuan dan 45% anak laki-laki SLTP telah melakukan senggama setidaknya sekali. Bahkan setelah memasuki kelas tiga SMU, angka ini meningkat menjadi 65% untuk anak perempuan dan 64% untuk anak laki-laki.

Apabila perilaku seks remaja sudah sedalam ini, bukan mustahil lagi kalau mereka juga telah melakukan seks oral. Bahkan, menurut Ambuel, seks oral merupakan hal umum di kalangan remaja yang pernah melakukan senggama.

Tentang hal ini, beberapa pakar psikologi dan psikiatri malah memberi tanggapan yang berbeda. Menurut mereka, eksperimen seks merupakan bagian dari perkembangan anak. Karena itu, mestinya tidak perlu dicemaskan kalau remaja melakukan seks oral atau masturbasi. Yang perlu perhatikan ialah langkah penyadaran tentang risiko yang ada dalam seks oral.

Dikatakan, anak-anak yang telah berusia tujuh belas tahun sudah sepantasnya mempelajari beberapa kegiatan seks, kecuali senggama. Kalau aspek psikologisnya normal dan mereka memang mempunyai orang yang dicintai, biasanya keinginan untuk mempunyai pengalaman seks sangat tinggi. Malah, menurut pakar, ini merupakan persiapan yang baik untuk menghadapi hilangnya keperawanan dalam perkawinan.

Hanya saja, ditegaskan, praktik seks seperti ini sebaiknya hanya dilakukan dalam hubungan yang memang telah saling mencintai, bukan dengan sembarang pasangan. Harus dibedakan mana hubungan di pinggir jalan dan mana hubungan yang sungguh-sungguh.